Jerawat Yang Membuatku Hampir Putus Asa

Jerawat Yang Membuatku Hampir Putus Asa


Jerawat Yang Membuatku Hampir Putus Asa

Halooo semuanya, sebelumnya aku ingin ucapin selamat datang di blog baruku. Selamat membaca tulisanku yang sederhana ini. Aku ingin berbagi ke kalian mengenai pengalamanku, sedikit pengetahuanku tentang make up dan skincare, serta hal lain yang berhubungan dengan wanita.

Di artikel pertama ini, aku akan menceritakan bagaimana dulu aku pernah jerawatan yang sangat parah. Hingga membuatku menangis setiap melihat kaca. Malu bertemu orang lain. Bahkan tidak pede saat keluar rumah. Maunya di rumah terus. Bener-bener kayak orang ansos (anti-sosial) gitu. Tiap hari di kamar. Selain kewajiban untuk sekolah, aku tidak pernah mau keluar rumah.

Alasan awal mengapa aku bisa jerawatan parah, sebenernya aku sendiri juga kurang tau. Soalnya kayak apa ya tiba-tiba aja gitu jerawatnya udah menyebar hampir ke seluruh wajahku. Yang aku ingat, pertama kali muncul itu di pipi. Cuma satu. Biasanya kalau aku menstruasi, hanya tumbuh satu jerawat. Ya jerawat di pipi itu. Satu gede gitu. Tapiii, beberapa bulan kemudian, jerawatnya nggak hanya tumbuh pas menstruasi aja. Kondisi badanku sedang baik-baik saja namun tumbuh banyak jerawat.

Di pipi satu, menyebar ke bagian pipi dekat telinga. Lalu jidat, kemudian tumbuh jerawat di dagu. Tumbuh lagi jerawat di hidung. Serius deh pokoknya hampir seluruh wajahku dipenuhi jerawat yang tak pernah ku undang untuk datang. Kesel banget. Nangis aku tuh tiap liat foto dulu wajahku mulus, eh sekarang jadi jerawatan. Mana temen-temen jadi ngeliat aku gimana gitu. Kayak yang mau ngehujat aku. Pernah ya waktu itu kan aku jerawatannya pas zaman SMA kelas 11. Aku punya temen laki-laki dua orang yang cukup dekat denganku ketika kelas 10. Mereka baik, humoris, selalu bikin ketawa. Walaupun juga sering bikin kesel karena kelakuannya ke aku. Tapi aku tau kalau itu hanya bercanda. Sampai suatu saat pas wajahku mulai muncul jerawat, mereka perlahan menjauhiku. Beruntungnya aku punya temen-temen perempuan yang nggak ikutan menjauhi aku. Mereka tidak pernah komentar mengenai wajahku. Masih bersikap sama seperti dulu.

Aku mencoba skincare ini itu berusaha untuk menyembuhkan jerawatku. Tapi hasilnya nihil. Tidak ada perubahan signifikan. Yang ada malah makin bertambah parah. Mungkin karena aku gonta-ganti skincare jadinya kulit bukannya membaik malah jadi memburuk. Aku sedih. Nggak tau harus gimana lagi. Bahkan aku hampir putus asa karena jerawatku ini. Hingga suatu hari, ibuku mulai menyadari bahwa wajahku tidak seperti biasanya. Beliau menyarankan aku untuk pergi ke salah satu klinik kecantikan terdekat yang ada di kotaku. 

Sebenarnya aku tidak mau, alasannya karena takut ketergantungan. Seperti maraknya rumor mengenai klinik kecantikan selama ini yang menyatakan kalau sudah sekali memakai produk perawatan dari klinik kecantikan, akan susah lepasnya. Karena hal itu membuat ketergantungan. Aku mengusulkan bagaimana jika aku langsung saja pergi ke dokter kulit SpKK (Dokter Spesialis Kulit dan Kelamin) yang sudah jelas spesialis di bidangnya. Namun ibuku menolak, beliau merasa kalau permasalahan jerawat itu tidak seharusnya sampai berobat ke dokter kulit. Mengapa aku mengusulkan seperti itu? Selain aku takut ketergantungan, yang aku tau dokter di klinik kecantikan itu tidak benar-benar dokter. Sepengetahuanku, mereka dokter kecantikan yang tidak spesialis dalam hal kulit. Mungkin ada yang benar-benar SpKK, tapi aku belum menemukannya. Jadi aku sebenarnya lebih memilih jika memang harus ke dokter, aku ingin langsung berobat ke dokter kulit.

Beberapa hari aku memikirkan untuk pergi atau tidak ya ke klinik kecantikan? Menimbang positif negatifnya, jerawatku yang semakin parah hari demi hari, dan orang tua terutama ibuku yang selalu menyuruhku untuk berobat ke klinik kecantikan. Akhirnya aku memutuskan untuk pergi ke salah satu klinik kecantikan. Namanya tak perlu lah ya aku sebut. Yang jelas klinik tersebut sudah cukup terkenal. Aku datang bersama ayahku, karena ibuku sedang bekerja jadi tidak bisa ikut mengantar. Registrasi, lalu antri untuk dipanggil dan berkonsultasi dengan dokter. Cukup lama menunggu, aku pun dipanggil oleh salah satu pegawai klinik tersebut untuk bertemu dokter.

-To be continued-


Yuk baca kelanjutan kisahnya di Jerawat Yang Membuatku Hampir Putus Asa Part 2

Oldest