Jerawat Yang Membuatku Hampir Putus Asa Part 2 - Perawatan di Klinik Kecantikan

Perawatan di Klinik Kecantikan

Perawatan di Klinik Kecantikan

Halooo semuanya, lanjut lagi nih ceritaku tentang masalah jerawat. sebelumnya bagi kalian yang belum membaca part 1, silakan baca di sini >>> Jerawat Yang Membuatku Hampir Putus Asa Part 1

Di dalam ruang konsultasi aku menceritakan semua keluh kesahku selama ini karena jerawat. Sang dokter dengan sabar mendengarkan celotehanku. Sepertinya dokter sudah paham apa yang terjadi padaku sebelum aku bercerita panjang lebar. Soalnya beliau merespon dengan biasa saja, layaknya sudah biasa menghadapi pasien dengan masalah kulit wajah khususnya jerawat seperti aku. Aku pasrah dengan treatment apapun yang akan direkomendasikan oleh beliau. Demi kulit wajahku yg lebih baik. Walau aku tau pasti waktunya tidak sebentar untuk mengembalikan kulit wajahku seperti dahulu. Dan aku pun paham kalau memang ketika sudah diusahakan sedemikian rupa tapi tidak bisa kembali semulus dulu, ya tak apa yang penting nggak jerawatan sebanyak ini lah. Dibalik itu sebenarnya aku juga khawatir akan biaya yang harus dibayar. Pasti cukup mahal, pikirku. Aku kasian dengan orang tuaku yang selalu bersusah payah menghidupiku. Bekerja keras banting tulang agar anak-anaknya bisa tetap hidup dengan layak dan berkecukupan. Aku merasa kurang pantas saja, jika hanya karena jerawat yang tidak pernah aku harapkan ini orang tuaku harus membayar dengan biaya yang cukup mahal. Tapi disisi lain orang tuaku yang malah mendorongku untuk segera mengobati jerawatnya, jadi yasudah aku ikut saja deh.

Setelah cukup lama aku berkonsultasi dengan dokter, beliau menyarankan aku beberapa produk dari klinik kecantikan tersebut. Basic sih sebenernya, seperti sabun cuci muka, krim pagi dan krim malam. Dokter sebenarnya merekomendasikan lebih dari itu, tapi aku hanya memilih beberapa produk yang menurutku memang perlu dicoba. Karna skincare itu kan cocok-cocokan, jadi aku takutnya tidak cocok dan kulit wajahku malah bertambah parah jerawatnya. Dokter pun ingin melihat dulu apakah skincare yang beliau rekomendasikan itu bekerja dengan baik atau tidak pada kulitku. Jadi satu bulan sekali aku harus konsultasi pada beliau. Oiya selama perawatan ini, aku sudah tidak lagi memakai skincare yang biasa aku pakai. Jadi aku benar-benar hanya memakai skincare dari klinik. Selain skincare, aku juga disuruh untuk melakukan facial treatment. Namun karena wajahku sedang berjerawat parah, memang tidak boleh langsung facial dulu. Jadi aku menunggu hingga kira-kira wajahku sudah lebih berkurang jerawatnya, baru deh boleh di facial. Singkat cerita hari itu pun tiba. Aku facial. Aku langsung dipesankan salah satu varian facial yang ada di klinik tersebut.

Harap-harap cemas. Aku takut jika facial treatment itu sakit. Karena teman-temanku yang pernah facial bercerita bagaimana sakitnya padaku waktu itu. Tapi yasudah lah bismillah saja. Lalu aku dipanggil untuk masuk ke ruang perawatan. Aku disuruh mengganti baju dengan kain yang hanya menutupi tubuhku hingga dada. Aku tiduran di kasur yang sudah disediakan oleh kliniknya. Mbak-mbak yang bertugas untuk mem-facialku sudah siap melakukan tugasnya. Dari membersihkan muka hingga ekstraksi (pencabutan komedo), aku merasa sakit hanya pada saat ekstraksi. Serius sakit banget. Yang lainnya mah enak dipijet gitu. Aku sampai menangis karena itu. Komedoku kan paling banyak di hidung ya, hidungku otomatis dipencet-pencet biar kecabut semua itu komedonya. Aku bilang ke mbaknya begini “mbak aduh kok sakit ya”. Eh mbaknya nyaut “ya memang begini mbak prosedurnya”. Mana judes bener lagi astagfirullah kesel banget rasanya sekali aja seumur hidup nggak mau balik lagi. Kapok. Bahkan waktu itu kan lagi jerawatan, walaupun nggak sebanyak beberapa waktu lalu, tapi masih kerasa sakit gitu kalau terlalu dipencet. Eh ada dong satu jerawatku yang bener-bener dipencet sama mbaknya. Aku kesakitan. Menangis nggak kuat. Bahkan aku tau kalau hal itu nantinya bisa menyebabkan bopeng. Kalau ada yang belum tau bopeng itu apa bisa cari sendiri ya di google hehe. Setelah semua prosedur facial selesai, aku mengganti baju. Keluar ruang perawatan dengan mata sembab.

Ayahku yang menunggu di luar bingung melihatku dengan wajah begitu. Ditanya kenapa, aku menjawab ala kadarnya. Karena aku sudah capek, menyesal, ingin segera pulang saja. Lalu yasudah, ayah membayar semua tagihan perawatan. Tak terduga biayanya…

-To be continued-


Previous
Next Post »